Saturday, August 6, 2016
Wanita Purbanlingga Jarang Jadi TKW Tapi Suami Momong Anak, Ini Dia Penyebabnya
wartaberitatki - Perusahaan di Kabupaten Purbalingga yang mayoritas bergerak di bidang rambut, ternyata kurang tertarik untuk mempekerjakan kaum laki-laki. Dari serapan tenaga kerja sebanyak 58 ribu, hanya 10 persen yang diisi pekerja laki-laki.
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pubalingga Ngudiarto mengatakan, tenaga kerja perempuan yang diserap oleh 22 perusahaan di bidang rambut sebanyak 42 ribu orang. Belum ditambah tenaga kerja perempuan yang bermitra dengan perusahaan dalam kelompok plasma, yang kurang lebih 10 ribu orang di berbagai desa.
Jumlah ini berbanding terbalik dengan serapan tenaga kerja bagi laki-laki yang hanya berkisar 5.800 orang. “Hampir 90 persen yang terserap memang perempuan. Rata-rata pendidikan tertinggi setingkat sekolah menengah atas,” kata Ngudiarto. Dominasi tenaga kerja perempuan dibanding pekerja laki-laki, kata dia, membawa dampak sosial baik positif maupun negatif. Sisi positifnya, laju urbanisasi perempuan juga migrasi misalnya bekerja di luar kota atau menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) tergolong rendah.
Sedangkan sisi negatifnya, karena serapan tenaga kerja rendah maka banyak laki-laki yang merantau ke kota lain. “TKI perempuan di Purbalingga rendah. Misalnya karena bekerja di plasma, mereka sudah produktif dan dekat dengan keluarga. Bagi laki-laki, alih status juga ada. Karena menganggur mereka momong anak,” imbuhnya.
Fenomena ini membuat Pemkab Purbalingga memberi imbauan khusus kepada investor asing yang ingin menamkan modal serta membangun usaha Purbalingga. Salah satu imbauan yang diajukan, persentase serapan kerja antara laki-laki dan perempuan harus seimbang. Imbauan ini, kata Ngudiarto, pernah disampaikan pada perusahaan asal Korea pada tahun 2015 lalu yang hendak membuka usaha di bidang boneka.
“Hal ini sudah pernah kami sampaikan ke beberapa perusahaan asing. Ada perusahaan yang mengakomodir dengan melakukan serapan kerja bagi laki-laki untuk menggunting rambut,” ungkapnya. Peningkatan serapan kerja laki-laki juga diupayakan dengan program angkatan kerja antar daerah (AKAD).
Dinsos pernah melakukan fasilitasi lowongan kerja di bidang kelapa sawit Kalimantan, yang bisa menyerap ribuan tenaga kerja laki-laki. Sayangnya, sistem kerja yang bersifat kontrak selama tiga tahun tidak diminati.
“Kami juga menggalakkan pelatihan kerja seperti di bidang otomotif dan lain-lain. Bupati sendiri komit untuk bisa mengurangi pengangguran dan memberi kesempatan seluasnya bagi penguatan skill warga Purbalingga,” ungkapnya. (ziz/sus)
Sumber: radarbanyumas
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Paling Dilihat
-
Sempat Menjalani Perwatan kurang lebih Dua bualan lamanya diruang Isolasi Rumah Sakit King Abdul Aziz Jeddah lantaran penyakit menular y...
-
Jenazah TKW Hongkong Asal Ponorogo Itu Datang Tanpa Kejelasan Autopsi - Jenazah Dhinia Sabatini tiba di rumah Tri Hantoro, war...
-
Berita Bontang - Cerita manusia jadi-jadian yang terbang setiap malam untuk mencari mangsa bayi ataupun ibu hamil sudah sangat melegenda...
-
Lagi-lagi kasus pemerkosaan terjadi di Ngawi, Jawa Timur. Kali ini korbannya adalah seorang gadis berusia 14 tahun. Sebut saja Mintu...
-
Seorang ibu di Lampung tega menganiaya anaknya sendiri dengan cara menusuk kemaluan anak perempuannya dengan pisau panas. Sang...
-
Berita Imigrasi - Banyak masyarakat yang belum mengetahui pembuatan paspor elektronik alias e-paspor. Sosialiasi mengenai program ini p...
-
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Lalu Muhamad Iqbal mengatakan po...
-
Bagi para TKI paspor bukanlah sesuatu yang asing. Dengan adanya paspor kita bisa wisata keliling dunia ataupun untuk bekerja. Dulu meng...

0 comments
Post a Comment